Disrupsi teknologi telah mengubah cara manusia bekerja, berelasi, dan beribadah. Bagi pemimpin Kristen, perubahan ini bukan ancaman yang harus dihindari, melainkan medan pelayanan baru yang menuntut hikmat.
Pemimpin yang efektif di era ini adalah mereka yang mampu membedakan antara nilai yang tidak boleh berubah dan metode yang harus terus diperbarui. Injil tidak berubah; cara menyampaikannya harus relevan dengan zaman.
Gereja dan lembaga pendidikan teologi perlu membina generasi pemimpin yang melek teknologi sekaligus berakar kuat dalam Firman — sebab teknologi tanpa karakter hanya mempercepat kejatuhan.