Umum
Israel Modern dan Israel di Alkitab: Apa Perbedaannya?
Daniel Ronda · 16 Agustus 2026

Oleh Chad Bird*
(Tulisan ini adalah terjemahan langsung dari Chad Bird yang tersedia di https://www.1517.org/articles/modern-israel-and-biblical-israel-whats-the-difference, diakses 27 Juni 2025).
Apakah Israel Modern adalah Ahli Waris Janji dan Perjanjian Allah dengan Israel Kuno?
Jika saya menyebut “Mesir,” apa yang langsung terlintas dalam benak Anda? Sebagian mungkin berpikir tentang piramida, yang lain Musa, sebagian lagi Cleopatra, Gereja Koptik, atau konflik Arab-Israel. Satu nama, satu tempat, tetapi memiliki beragam asosiasi sepanjang sejarah. Hal serupa berlaku untuk “Roma.” Seseorang mungkin membayangkan liburan menyenangkan di Italia, yang lain membayangkan Paus, dan yang lain lagi membayangkan Kekaisaran Dunia Kuno. Satu nama, satu tempat, namun karena kaitannya dengan agama, sejarah, dan budaya, sebelum kita membahas “Roma,” kita terlebih dahulu harus menjelaskan Roma yang mana yang dimaksud.
Namun, ketika menyebut “Israel,” kompleksitasnya jauh lebih besar dibandingkan Mesir atau Roma. Mengabaikan berbagai konotasi emosional dan politik, istilah “Israel” sendiri dapat merujuk kepada: seorang tokoh (Yakub); keturunan biologis Yakub (bangsa Israel dalam Alkitab); wilayah geografis dalam Kitab Suci (tanah Israel); wilayah yang lebih kecil (kerajaan utara Israel); keturunan Abraham berdasarkan janji (“Israel rohani” [Rm. 9:6-8]); atau negara modern yang didirikan pada tahun 1948.
Oh, dan sebagai tambahan, ada juga tempat bernama Israel di negara bagian West Virginia, Amerika Serikat. Karena itu, jelas bahwa ketika kita menggunakan istilah “Israel,” kita harus menjelaskan terlebih dahulu makna yang dimaksud. Pertanyaan utama yang akan kita telusuri adalah sebagai berikut: Apakah terdapat perbedaan antara Israel di Alkitab dan Israel modern? Apakah negara Israel modern merupakan ahli waris dari janji dan perjanjian Allah dengan Israel kuno? Ketika Alkitab menyebut “Israel,” apakah kita seharusnya membayangkan negara modern beserta warga negaranya, atau tanah dan bangsa Israel menurut Kitab Suci?
Israel di Alkitab dan Dua P: People and Place (Umat dan Tempat)
Setiap pembicaraan tentang Israel dalam Alkitab harus difokuskan pada maksud dan rencana Allah dalam sejarah keselamatan. Jika fokus ini diabaikan, kita hampir pasti akan tersesat dalam perdebatan yang tidak esensial. Memang, ada banyak diskusi menarik mengenai arkeologi, politik, bahasa Ibrani, dan sebagainya yang berkaitan dengan Israel—dan itu sah-sah saja. Namun semua itu hanyalah isu sampingan. Allah memilih Israel demi maksud keselamatan, dan maksud tersebut mencapai kepenuhannya secara definitif dalam diri seorang pria asal Israel, keturunan Daud, yaitu Yesus dari Nazaret, Anak Allah yang Diurapi. Bagi umat Kristen, berbicara tentang Israel di Alkitab tidak mungkin terlepas dari pusat keselamatan, dan berbicara tentang keselamatan tidak mungkin dilepaskan dari Kristus. Karena itu, setiap pembicaraan mengenai Israel yang tidak mengacu pada Yesus berarti kehilangan esensinya. Mari kita lihat bagaimana rencana keselamatan Allah ini dimulai. Pada hari manusia memberontak terhadap Allah, Allah langsung memulai rencana pemulihan-Nya. Di pusat rencana ini terdapat dua unsur utama—kita bisa menyebutnya “dua P”: People (Umat) dan Place (Tempat). Dua manusia pertama (Adam dan Hawa) kehilangan tempat mereka (Taman Eden). Maka kemudian Allah memanggil dua orang lagi (Abraham dan Sara) dan memberikan mereka sebuah tempat (Tanah Perjanjian).
Namun rencana Allah jauh lebih besar dan melampaui batas etnis dan geografis. Janji Allah kepada Abraham bersifat universal: “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Jadi keselamatan yang dijanjikan Allah tidak hanya akan melibatkan pertambahan jumlah umat Allah (“semua kaum”), tetapi juga perluasan tempat keberadaan mereka (“di muka bumi”).
Dari awal Kitab Suci, Allah telah menjanjikan keselamatan yang bersifat menyeluruh bagi umat manusia dan meluas ke seluruh dunia. Apa hubungan semua ini dengan Israel? Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, dan Allah memberikan nama baru kepada Yakub: Israel. Dari Israel (Yakub) lahirlah dua belas anak laki-laki yang menjadi dua belas suku bangsa Israel yang tinggal di tanah Israel. Perhatikan: kedua unsur—umat Israel dan tempat Israel—berjalan bersama. Bangsa Israel hidup di tanah yang dijanjikan, di bawah perjanjian yang Allah buat dengan mereka, sebagai kesaksian kepada dunia tentang siapa Allah dan apa yang telah Ia janjikan, sampai waktu janji itu digenapi (lihat Gal. 3:15-29).
Kegenapan itu datang ketika “Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat, untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal. 4:4-5). “Semua janji Allah adalah ‘Ya’ di dalam Dia [Kristus]” (2 Kor. 1:20). “Keselamatan datang dari bangsa Yahudi,” kata Yesus (Yoh. 4:22), dan karena itu Yesus, yang adalah keselamatan itu sendiri, lahir sebagai orang Yahudi untuk menggenapi rencana keselamatan Allah bagi seluruh umat manusia.
Yesus menggenapi rencana besar dan agung dari Bapa. Dialah benih Abraham dalam siapa segala bangsa diberkati (Gal. 3:8, 14). Ia hidup, mati, dan bangkit untuk orang Yahudi dan non-Yahudi, menyatukan mereka sebagai satu umat dalam satu tubuh-Nya (Gal. 3:28), dan menempatkan mereka di dalam Kerajaan Allah.
Dengan kata lain, Yesus membawa dua unsur itu—umat dan tempat—kepada tujuan ilahi yang akhir: umat Allah kini terdiri dari semua orang yang percaya kepada Kristus, baik Yahudi maupun bukan, dan tempat mereka adalah Kerajaan Allah yang didirikan dalam Kristus. Oleh karena itu, Israel di Alkitab tidak pernah berhenti ada. Ia terus berlangsung di mana pun umat pilihan Allah berkumpul sebagai anggota Kerajaan-Nya yang dikasihi dan dibaptis. Gereja bukanlah “pengganti” Israel. Yesus tidak meninggalkan “Rumah Israel” untuk membangun “Rumah Gereja” di sebelahnya. Sebaliknya, Ia tinggal di Rumah Israel dan memperluasnya—menambahkan ruangan, membongkar sekat, memperbesar fondasi—hingga rumah itu cukup besar untuk “segala kaum di muka bumi.”
Israel Modern
Penjelasan panjang mengenai Israel di Alkitab ini membawa kita pada jawaban singkat mengenai Israel modern. Negara yang kita kenal sebagai Israel hari ini berusia 77 tahun, didirikan pada 14 Mei 1948. Gerakan Zionisme, Deklarasi Balfour, Perang Dunia II, dan tragedi Holocaust adalah faktor-faktor utama dalam pembentukannya. Seperti negara-negara lain di dunia, Israel memiliki pemerintahan, warga negara, sistem ekonomi, militer, sekutu, dan musuh. Namun yang tidak dimiliki Israel modern adalah tempat dalam rencana keselamatan Allah. Tentu, Kristus mati bagi warga negara Israel modern, baik Yahudi maupun non-Yahudi. Tapi hal yang sama juga berlaku bagi warga negara Kanada, Rusia, atau Iran. Dengan kata lain, Yesus menghendaki semua orang diselamatkan—termasuk yang di Islandia, Mesir, dan Irak—tanpa membedakan keunikan teologis bangsa atau negara tertentu. Israel sebagai negara modern, oleh karena itu, tidak memiliki keistimewaan teologis dalam peta keselamatan Allah. Umat Allah dan tempat Allah memang bisa ditemukan di Israel, sejauh Injil diberitakan dan dipercayai di sana. Namun umat Mesias yang berada di Israel tidak lebih suci atau tinggal di tanah yang lebih kudus daripada umat Mesias yang berkumpul di Iowa atau Thailand.
Israel di Alkitab—yakni umat Allah di tempat Allah—masih berlangsung hari ini di mana pun Bapa disembah dalam Roh dan Kebenaran (Yoh. 4:23-24). Israel modern hanyalah satu negara lagi di dunia yang secara kebetulan menduduki tanah di mana dahulu Kristus menggenapi keselamatan bagi dunia, dan dari mana pesan Kerajaan itu diwartakan—dari Yerusalem ke seluruh Yudea, Samaria, hingga ke ujung bumi (Kis. 1:8), agar “segala kaum di muka bumi” diberkati dalam Dia (Kej. 12:3).
*Chad Bird adalah seorang teolog, penulis, dan pengajar Perjanjian Lama asal Amerika Serikat. Ia menjabat sebagai Scholar in Residence di lembaga teologi 1517. Ia meraih gelar Master dari Concordia Theological Seminary dan Hebrew Union College dalam bidang studi Ibrani dan Perjanjian Lama. Chad pernah melayani sebagai pendeta dalam Gereja Lutheran (LCMS) dan mengajar di berbagai seminari. Ia dikenal luas melalui buku-buku seperti Night Driving, Unveiling Mercy, dan podcast populer 40 Minutes in the Old Testament. Saat ini ia tinggal di Texas bersama keluarganya.